Suatu hari di tahun 2006, aku pernah menorehkan catatan ini: NB; Nebeng Bentar. Gw ga pengen jadi perempuan yang mengajarkanmu melawan dan membantah orang tua. Gw ga mau jadi perempuan yang menghalangimu untuk berbakti. Demi ibumu, perempuan yang gw hormati, dan demi bapakmu, lelaki tempatmu mengabdi, gw rela menghilang dari kehidupanmu. Semoga ini melegakanmu. Tak ada yang salah dan tersakiti. Gw rela. Banyak kehidupan di luar sana yang begitu indah dan jauh lebih penting dari sekedar gw! (one day without him)
Aku menulisnya lagi untuk mengingatkan diriku bahwa aku pernah membentur dinding demikian tebal hingga mendatangkan rasa sakit yang begitu pekat. Seharusnya tak ada tangisan lagi. Toh sampai kiamat pun, permohonan untuk memilih kebangsaan saat dilahirkan tak akan pernah terkabul.
"Ciumanku menyakitimu, Putri?" Lelaki Angin bertanya hati-hati. " Nggak," Putri menggeleng keras. "Tapi mengapa kau menangis?" " Gpp," Putri menggeleng lebih kuat lagi "Kau tau, melihatmu menangis membuatku sakit," suara Lelaki Angin terdengar pilu. " Maukah kau menciumku sekali lagi?" Putri memejamkan mata. Bulir bening mengalir deras di pipinya. Lelaki Angin tak menjawab. Dikecupnya bibir kekasihnya penuh kelembutan. " Kau tidak menyakitiku, sayangku. Aku hanya sedang kacau. Aku takut pada benturan di dinding itu, yang meski tipis, bisa saja melukaiku. Padahal sudah kuimpikan tentang kelahiran anak-anak yang akan mewarisi sepercik nyala api ibunya," jawab Putri. Dalam hati. *terselip di antara mimpi-mimpi tak beraturan, menjelang pagi*
 Kemarin, saya baru saja membaca ajakan aksi menolak kekerasan dan menyikapi kelompok2 penebar kebencian dalam masyarakat di blog Mas Andreas dan Mbak Nong. Pikirku, sukurlah, masih ada sekelompok orang yang ga ikut gila ngelarang2 orang Ahmadiyah hidup di negeri ini. Kalo aksinya di sini, atau saya lagi di jakarta, pasti saya ikut bergabung. Lalu beberapa menit setelahnya, saya membaca dan menyaksikan di tivi, tentang pemukulan terhadap mereka yang ikut aksi itu oleh sekelompok orang, FPI katanya. Mereka baru berkumpul, ketika tiba-tiba diserang massa yang membawa tongkat bambu, memukuli kepala, pelipis, tengkuk, punggung dan sebagainya. Mereka tak peduli pada jeritan ibu-ibu yang bahkan menggunakan kursi roda. Dan polisi, seperti di film2 India, selalu datang belakangan dan tak berbuat apa-apa. Sedemikian berkuasanya FPI sampe polisi pun tak berdaya? Mengapa aksi yang begitu telanjang di depan mata malah dibiarkan? Mengapa tidak ada yang ditangkap? Mengapa perlakuan polisi begitu berbeda saat menangani aksi mahasiswa Unas dan yang lainnya? Ataukah FPI memang kelompok yang dibentuk pemerintah sebagai anjing penjaga yang setia pada tuan pemberi tulang? Tapi kenapa mereka selalu mengatasnamakan pembela Islam? Padahal sebagai orang Islam, saya tidak merasa perlu dibela oleh sekelompok orang yang selalu bertindak dan memicu terjadinya kekerasan dan menjadi teror bagi manusia lainnya. Saya tidak mengenal mereka. Katanya ini negara hukum. Tapi yang berlaku hanya hukum rimba. Siapa beringas, dia yang kuat dan dibela. Dan seperti biasa, bapak2 pembesar itu baru mengeluarkan statement saat kondisi udah parah, saat yang jadi korban juga pembesar. Tapi saat orang kecil yang jadi korban kekerasan FPI, mereka tak bergeming. Korban seolah tak ada harganya. Mereka semakin meyakinkan saya bahwa FPI memang dibentuk sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk melegalkan tindak kekerasan di bumi Indonesia ini. Terlebih saat polisi mengatakan, mereka tidak ditangkap karena polisi tidak ingin memperkeruh suasana. Lho? Saat menyerang kampus Unas mereka malah bilang: siapa yang bisa melarang polisi masuk kampus? Hah, pembelaan sesama a****g! Eh, atau pengalihan isu BBM??? Cara intelejen yang terlalu norak dan kasar! *repost dari blog satunya**gambar Munarman lagi nyekik orang diambil tanpa izin dari blog Momon
 29 MEI dua tahun lalu, pertama kalinya lumpur panas menyembur dari sumur minyak dan gas milik Lapindo Brantas. Dua tahun berlalu, jumlah korban terus bertambah, lahan yang tergenang lumpur makin meluas, tapi hingga detik ini, tetap saja tak ada perhatian pemerintah dan PELAKU serta PEMILIK terhadap para korban. Mereka, para korban masih sama seperti dulu, makin miskin, sengsara, uang makan dihentikan, digusur dari pengungsian, dan uang ganti rugi tak kunjung diberikan. Anak-anak tak bisa sekolah, para orangtua tak bisa mencari nafkah karena tempat mereka mencari makan pun sudah tenggelam dalam lumpur. Dua bulan lalu, lumpur Lapindo sudah menenggelamkan 12 desa, 34 gedung sekolah dari TK-SMA, 60.000 orang mengungsi, 87 industri skala rumahan sampe skala pabrik besar yang ditenggelamkan lumpur. Belum lagi fasilitas umum yang tak bisa digunakan lagi. Kawasan tersebut dibiarkan makin berbahaya dan jadi neraka. Sedikitnya 15 kali tanggul penahan lumpur jebol dan menggenangi kawasan sekitarnya. Hingga tengah Mei 2008, setidaknya ada 90 semburan lumpur baru disekitar rumah warga. Semburan baru ini katanya mengandung Nitrogen Dioksida (NO2) dan hidrokarbon (HC) yang mudah terbakar dan beracun. Sementara pemiliknya, semakin hari semakin kaya dan makin tak peduli pada korban. Setelah tahun lalu dia menjadi orang terkaya se Indonesia dengan jumlah kekayaan 5,4 miliar dolar AS, tahun ini ia dinyatakan menjadi orang terkaya se- Asia Tenggara. Kekayaannya menjadi 9,2 miliar dolar AS. Sebelum menjadi orang terkaya se Indonesia tahun lalu, kekayaannya 'hanya' 1,2 miliar dolar AS. Berarti sekarang naik 9 kali lipat!!! Sayangnya, kekayaan sebesar itu, sama sekali ga berarti apa-apa untuk korban Lumpur Lapindo yang tetap jatuh miskin, tak dibayar. Dia malah sibuk bersembunyi di balik punggung pembelanya, yang juga orang nomor satu dan nomor dua di negeri ini. Ah, lupa, namanya juga menteri kesejahteraan rakyat! Pikirkan dululah kesejahteraan diri sendiri, baru mikirin rakyat. Sudahlah, saya makin emosi memikirkan itu semua. Kini, ayo, kita tunjukkan solidaritas kepada korban Lumpur Lapindo. Pakailah baju atau apapun berwarna putih di hari Kamis, 29 Mei. Itu tanggal saat lumpur lapindo mengenangi Porong, Sidoarjo. MENGAPA PUTIH? Karena putih adalah simbol kesucian hati, pikiran, tindakan dan perkataan. Warna putih merupakan simbol perlawanan terhadap segala bentuk kebohongan yang pernah dilontarakan oleh Lapindo, pemerintah dan wakil rakyat selama ini! *ma kasih buat Mbah yang mau membuatkan gambar ini
Apakah kalian pikir, menangkap dan menembaki mereka akan membuat anak-anak itu jera untuk berteriak dan melawan??? " Suara-suara itu tak bisa dipenjarakandi sana bersemayam kemerdekaanapabila engkau memaksa diamaku siapkan untukmu: pemberontakan!" Mereka bosan kalian terus berkelit. Berpura-pura lupa pernah mengatakan ini di sana dan di sini. Lalu seenaknya menaikkan harga BBM. Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada APBN tahun 2008. Penegasan tersebut disampaikan Presiden seusai melantik Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) baru, Laksamana Madya Sumardjono, di Istana Negara, Rabu (7/11) siang. "Tidak ada opsi itu karena kita cari solusi yang lain, yang cespleng. Paling tidak mengurangi dampak tanpa harus menimbulkan permasalahan pada masyarakat luas. Insya Allah kita carikan jalan terbaik," kata Presiden kepada wartawan.Pemerintah, lanjut Presiden SBY, akan terus melakukan langkah-langkah untuk mengatasi harga minyak yang kian melambung. "Kita lakukan langkah-langkah domestik, kebijakan yang lain supaya kita bisa mengatasi. Ada solusi, tidak mengguncangkan perekonomian kita, tidak mengubah anggaran pembelanjaan kita. Itu yang sedang kita lakukan, yang pada saatnya kalau memang begini terus dan lebih tinggi lagi, tentu akan ada yang kita lakukan secara signifikan," kata Presiden SBY. (mit)Jadi apa yang bisa dipegang dari seorang politikus? Jika ia kebo, masih ada talinya dijadikan pegangan. Jika ia manusia, maka omongannyalah yang jadi pegangan. Jika omongannya tak bisa jadi pegangan lagi, lalu disebut apa dia? Tidakkah ia sadar bahwa omongan yang lalu itu meninggalkan jejak dimana-mana? Tidakkah ia sadar, omongan yang populis dan menyejukkan itu akan didokumentasikan banyak orang? Maka, apa yang bisa dilakukan selain melawan? *) "..." dikutip dari puisi Wiji Tukul
Apa yang bisa saya ceritakan tentang hari-nya para perempuan Indonesia hari ini? Melupakan himpitan hidup mbak2 penjual jamu gendong dengan menghadirkan profil para perempuan manajer? Mengabaikan perjuangan kaum buruh perempuan dengan mengeksplorasi berita tentang parfum dan panggung para selebriti yang memperingati hari Kartini? Ah, terlalu biasa. Saya ingin membagi cerita dari kawan saya, si anak Papua itu. Ketika seluruh perempuan dunia yang mengaku berpikir maju, lantang meneriakkan tentang pemberdayaan perempuan, sekelompok masyarakat di ujung timur negeri ini, sama sekali tak tersentuh. Mungkin daerah yang lebih dekat dengan pusat kekuasaan juga masih banyak yang mengalami ketertinggalan seperti warga Papua, tapi mungkin tak separah di sana, setidaknya menurut kawan saya itu. Cerita kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan terhadap perempuan, sudah menjadi ciri beberapa kelompok masyakarat adat di sana. Misalnya di masyarakat suku Amungme. Jika seorang suami tidak menyukai sikap istrinya, misalnya merasa dihalang2i untuk gaul atau seneng2, maka justru saudara2 si istri menjadi pembela si suami. Mereka akan mengatakan: "Ipar masih banyak ladang yang laen bukan satu itu saja. Kita kasih kamu satu lagi ini, trus tinggalin aja yang lama". Intinya, kalo istrinya ngelarang2, sodara2 istrinya ngasih perempuan satu lagi buat si suami. Dodol banget yak? Tapi kalo si suami yang mengusulkan perempuan lain untuk dijadiin istri keduanya, maka dia wajib membayar denda kepada keluarga istrinya. Adat lain, ada lagi. Mas kawin boleh nyicil! Itu brarti, mereka boleh kumpul kebo dulu sampe punya banyak anak, baru nikah resmi. Asal ngasih DP dulu buat mas kawin. Alamak! Si temen gw ini punya temen kayak gitu. Udah punya dua anak baru mulai nyicil mas kawin. Ada satu lagi, pengalaman temennya kawan gw. Sebut saja A. Si A udah beristri. Tapi suatu hari dia kenal perempuan lain, mereka menjadi deket, sampe akhirnya perempuan itu bunting. Maka dipanggillah si A menghadap bokap perempuan itu untuk dimintai uang denda karena anaknya bunting. Si A bilang, dia mo menikahi perempuan itu, tapi si bokap menolak kalo anaknya dijadiin istri kedua. Pokoknya dia mau si A bayar denda. Kalo nggak, si bapak akan menyerahkan daftar kunjungan si A ke anak perempuannya kepada istri si A. Mau ga mau, daripada bayar denda ke dua pihak, akhirnya si A membayar denda Rp 60 juta ke bokap cewek itu. OMG, masih mending kalo itu duit diserahkan ke perempuan hamil itu buat biaya anaknya nanti. Lha kalo diabisin sama bapaknya buat berjudi, minum2, dll, gimana? :( Dan setelah pembayaran denda, masalah dianggap selesai dan seolah2 tidak pernah terjadi apa2. Nah, nikah adat ada lagi. Misalnya perempuan dan laki saling suka, mereka bikin perjanjian pernikahan secara adat. Jika dikemudian hari mereka ada masalah, misalnya suami ketahuan selingkuh, maka pilihannya ada dua. Bayar denda atau mati. Tapi ini berlaku untuk yang sesama suku. Tapi ada juga suku lain yang masih menyelesaikan permasalahan seperti itu dengan cara kekeluargaan, lalu bayar denda dan cerai. Tapi ujung2nya tetep sama, perempuan selalu dikorbankan, dan umumnya pelakunya adalah orang tua dan saudara mereka sendiri. Selamat hari Kartini [telat sehari :p]
jangan takut padaku saya bukan penyantap mimpi saya bukan api pemberangus asa saya pun tak punya tali untuk mengikatmu apalagi rantai besi berujung jangkar penambat hati saya hanya ingin menjadi teman yang menyenangkan setiap waktu * ya, juga diposting di blog satunya dengan judul berbeda
Boro2 ribut soal kandungan bakteri Sakazakii dalam kemasan susu bayi yang tercemar, Dg Basse yang tengah hamil tujuh bulan dan seorang anaknya malah mati kelaparan. Jangankan untuk beli susu bagi anaknya, makan sehari tiga kali aja ga pernah. Jangankan kenal yang namanya susu formula yang bikin cerdas, mereka cuma bisa makan nasi dan garam setiap hari [kalau berasnya ada]. Sediiiih sekali. Sekaligus maraaaah banget mendengar berita itu. Membayangkan sebuah keluarga yang tinggal di lingkungan yang padat, punya banyak tetangga, tapi tak ada yang tau, Basse dan tiga anak kecilnya hanya makan bubur berbumbu garam sekali sehari agar bisa berhemat. Berjejal di satu ruangan di rumah panggung kontrakan yang tak sanggup dibayarnya meski bagi orang lain Rp 50.000 per bulan mungkin bukan jumlah yang sangat besar. Sementara di kompleks dekat rumah mereka, tinggal dengan nyaman keluarga2 pembesar, pejabat kota dan provinsi, yang saban hari mengurusi data-data orang miskin, namun tak sempat melihat kemiskinan yang nyata-nyata di depan matanya. Baru pada hari kematian Dg Basse dan anak dalam kandungannya, serta satu anak lainnya, orang sekitar kompleks itu melihat keberadaan mereka. Para tetangga, baru membawa tiga anak Dg Basse lainnya ke rumah sakit agar tak ikut mati dalam pusaran kelaparan dan kemiskinan. Telah nyata ibu dan anak itu meninggal karena kelaparan, pejabat kesehatan masih saja mempertentangkan. Padahal keluarga Dg Basse cuma butuh makanan. Bukan teori2 tentang kesehatan. Mereka tak punya kepentingan pada kandungan bakteri dalam susu formula. [sebab meski bukan peneliti, Dg Basse mungkin lebih tau bahwa susu sapi hanya baik untuk bayi sapi sementara untuk bayi manusia, Tuhan telah menciptakan susu tanpa bakteri] Keluarga Dg Basse tak perlu tau mereka masuk golongan mana dalam banyak singkatan GAKIN, RASKIN, asal ada sesuatu yang bisa dimakan hari ini. Mereka tak perlu tau bagaimana para mahasiswa yang suka tawuran itu mengobral janji memperjuangkan orang miskin macam mereka. Mereka ga perlu tau akan kemana bapak wapres dengan pengawalan kendaraan yang meraung2 melintasi depan rumah kontrakan mereka. Mereka ga mau tau sudahkah para anggota dewan yang dipilihnya dalam pemilu lalu mendapatkan tunjangan komunikasinya. Mereka ga perlu tau ada apa antara ibu menkes, IPB, BPOM, YLKI yang sibuk membincangkan susu formula. Keluarga Dg Basse hanya butuh makanan. Bukan perdebatan2 tak berujung tentang harga minyak, kampanye, RUU Politik, maling BLBI, pencipta neraka Sidoarjo. Mereka butuh makanan. Bukan tebar pesona, bukan album baru, bukan poco-poco. Kemana kalian (dan kita) semua???
Sejak kemarin migren saya kumat. Maka tadi pagi saya tak bisa bangun pagi untuk kerja. Capek. Tapi lamat2 dari tv di kamar sebelah saya berkali-kali mendengar suara " Pemirsa, mantan Presiden Bapak Haji Muhammad Soeharto, yang kita kenal sebagai bapak pembangunan, adalah sosok blablabla...." Wooo....kepala saya kian berdenyut2. Saya hapal suara itu, penyiar perempuan TVRI dari zaman duluuu banget. Konon katanya rumahnya tak jauh dari rumah orang yang sedang dibicarakannya, yang namanya selalu disebut sangat lengkap. Penyebutan nama itu mengingatkan saya pada pikiran kanak2 dulu. " Apakah 'Presiden' adalah sepotong dari namanya? Nama: Soeharto. Nama lengkap: Presiden Soeharto." Hihihi...bodoh kali saya nih! Lalu, untuk menetralkan telinga, saya juga nyalain tipi di kamar [yang stengah tahun ini jarang banget saya sentuh]. Tapi ini malah bikin saya makin pening. Karena gambarnya ternyata seragam. Ekslusif TVRI. Warnanya lebih bening daripada channel TVRI sendiri. Oh God! Apa tipi saya rusak? Kok gambarnya sama di semua channel? Atau saya terbangun dalam dimensi waktu masa lampau? Ketika hanya ada TVRI yang bisa menjalin persatuan dan kesatuan? Bukan. Rupanya ini masih bagian dari setting itu. Dan karena ga bisa tidur lagi, saya beranjak, ke kantor. Buka-buka koran, ya Tuhan, banyak kali iklan duka cita dari pemerintahan, perusahaan. Ini apa??? Kalo biaya masang iklan stengah halaman, berwarna pula, dipake buat nambah2 subsidi minyak tanah, minyak goreng, ngasih modal usaha buat orang2...berapa yang terselamatkan hidupnya? Daripada dikasih ke orang yang udah meninggal? Dia ga baca! Ga akan ngasih proyek karena jilatan iklan2 kalian [kecuali anak2 dan kroninya, kalo mereka ga buru2 melarikan diri keluar negeri setelah pemakaman ini usai]. Belum lagi kalo melihat biaya perawatan selama orang itu nginep di RSPP. Nyaris 1 miliar rupiah? Dua kamar Presiden Suite seharinya aja masing2 Rp 2,5 juta. Trus ada dua lagi kamar kelas III seharinya masing2 Rp 200.000. Kalo dikalikan 23 atau 24 hari? Belum biaya obat, dokter, keamanan, dll, dsb? Ada berapa puluh " Slamet" yang modalnya sehari cuma Rp 50.000 yang bisa dibantu dengan dana yang hanya buat satu orang, yang sebenernya udah lewat tanpa bantuan alat2 itu? Kembali ke soal tipi rusak, kenapa semua berita penuh puja puji najis yang melupakan perasaan korban pembantaian, penembakan dan penculikan? Berapa ratus ribu nyawa terbantai? Berapa ratus keluarga tercerai berai karena tuduhan2 tak berdasar dan tanpa pengadilan? Berapa ratus genangan darah tercipta di Aceh, Papua, dan Timor Timur karena telunjuknya? Huh, sampai tak ada yang ingat berita ini, soal pemakaman di Kalibata. Suara najis perempuan yang memujanya sebagai Bapak Pembangunan itu, akan terus berdengung di telinga anak2 yang menonton tivi hari ini. Anak2 itu akan mengenangnya sebagai bapak baik, penuh senyum, suka mancing, main golf, berkebun. Dan orang2 tua yang mendapingi anak2 itu menonton akan melanjutkan dongeng tivi rusak hari ini untuk membantah bahwa wajah penuh senyum itu juga orang yang begitu fasis, pembunuh, mengekang kebebasan rakyatnya. Kenapa? Karena dia pergi tanpa pernah diadili. Karena, penerusnya ga pernah ada yang berani mengadilinya. Karena, penerusnya, berasal dari institusi yang sama, tentara! Kasian sekali anak2 zaman ini, yang tak pernah mengenal Munir! *) postingan ini sebelumnya diposting di blog satunya
Ini seri kedua tentang profil orang-orang yang menurut saya membawa kesan dan pelajaran dalam hidup, yang juga saya muat di blog satunya.
SAYA mengenalnya dari buku. Suatu hari di penghujung tahun 2005, saya ke toko buku dan tertarik membaca bagian belakang sampul Laskar Pelangi (LP). Tak pikir panjang, saya membelinya, menamatkannya esok harinya. Sepekan setelah itu, saya ke toko buku lagi, nemenin temenku beli buku yang sama. Saya dan temenku, harus punya buku itu, masing-masing. Terlalu bagus untuk tidak dikoleksi. Suatu hari di pertengahan 2006, seorang teman di Makassar, Aan si pecandu buku, memintaku untuk jadi panelis di talk show radio yang sedang ditanganinya. Acara radio itu khusus bicara soal buku. Saya tanya, "Apa tak ada orang lain di Makassar sampe harus nyebrang lautan nyari narasumber?" Dia bilang, "Saya tau kamu suka buku Andrea Hirata. Mungkin tepat kalo kamu jadi panelis. Kamu dapet giliran pertama untuk bicara, setelah itu Andrea Hirata." What? Saya terlonjak! Bener2 ga nyangka. Meski cuma lewat telfon, tapi panelis untuk review buku Andrea dan soal pendidikan di Indonesia, benar2...saya ga tau menamakannya apa. Tak ada waktu untuk menolak. Saya sedang di kantor ketika acara talk show itu mengudara. Saya bicara nyaris "asal". Nervous! Sebelum berhasil menata debaran jantung usai wawancara itu, Aan kembali menghubungiku. Katanya, "Ma kasih, Sukses acaranya." Syukurlah. Dan saya ga mau melewatkan kesempatan begitu saja. Saya minta dikenalin ke Andrea. Aan memberiku nomer hp-nya. Tapi saya tak pernah menelfon. Esoknya saya ngirim imel ke Andrea. Saya lampirkan nomerr hp saya dan minta izin untuk membuat review bukunya, Sang Pemimpi (SP). Setelah review bukunya dimuat di koran, saya menghubunginya lagi untuk mengirim bukti terbit. Ketika Edensor terbit pada Mei 2007, saya membuat reviewnya lagi di koran. Baru saat itu saya mengontaknya lagi untuk wawancara lengkap. Setelahnya, beberapa kali kami saling berkirim sms tengah malam. Kala itu, insomnia saya emang gila, kadang tak tidur semaleman, bahkan sampe 3 hari. Andrea juga begitu katanya. Belakangan, pihak manajemennya yang lebih banyak menghubungi saya. Sayangnya, info2nya kadang tak lengkap untuk sebuah publikasi. Sosok Andrea, sangat sederhana. Hal itu tergambar jelas dalam tiga novel Tetralogi Laskar Pelangi yang tak lain bercerita tentang kisah hidupnya di tanah kelahirannya, Belitong. Namun, dengan kesederhanaan itu, Andrea Hirata tampil cukup mengejutkan di dunia kesusastraan Indonesia. Baru pertama kali menulis novel, tapi karya-karyanya langsung menjadi best seller. Tawaran untuk memfilmkan karyanya pun berdatangan. Tak salah pula jika sarjana lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, S2 dari Sheffield Hallam University, Inggris dan Universite de Paris, Sorbonne Prancis ini disebut sebagai penulis yang rajin karena bukunya terbit setiap tahun. Dimulai dengan LP pada September 2005, SP pada Juli 2006, dan Edensor pada Mei 2007. Kesan dan pelajaran apa yang saya petik dari Andrea? Buanyak, sampe tak bisa saya sebutkan satu per satu karena banyaknya. Saya suka mengutip kata2 Arai di Edensor: "Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi2 itu." Kalimat itu, mewakili segalanya tentang Andrea. Semangat hidupnya, pantang menyerahnya, cita-citanya, hidupnya, segalanya. Inilah petikan wawancara saya dengannya, Juni 2007 lalu; Yati Maulana (YM): S aat melakukan perjalanan ke Eropa dan Afrika, apakah memang telah terpikir untuk membukukan kisah itu? Atau hanya karena sudah 'terlanjur' menerbitkan LP dan SP?Andrea Hirata (AH): Pertanyaan yang menarik, terutama karena tanpa disadari atau tidak, ternyata di antara kita tumbuh, ramai, dan berkembang komunitas backpacker, baik yang terorganisir maupun tidak, bahkan sudah ada mailing list-nya. Sehubungan dengan ini, menulis novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi itu yaitu Edensor, aku menghadapi dua situasi. Pertama, seperti niat kebanyakan backpacker, mereka selalu ingin menulis pengalaman perjalanan, namun sering terhambat karena mungkin tak terbiasa menulis, sebagian lain berkecil hati ketika cerita pengalaman perjalanan yang hebat ternyata ketika ditulis menjadi tidak seru. Maka bagiku menulis cerita backpacking dalam novel Edensor sudah direncanakan lama. Ketika karya itu selesai aku merasa seperti anak ayam yang baru menetas, karena merasa berhasil mengatasi kesulitan menulis cerita perjalanan yang banyak dialami para backpacker. Berhasil dalam arti subjektif, sebab apakah novel Edensor menarik atau tidak semuanya tergantung selera dan penilaian pembaca. Situasi kedua adalah konsekuensi cerita. Bagiku menulis Edensor menjadi semacam keniscayaan karena pengalamanku mendapat beasiswa ke Prancis lalu berkelana ke seantero Eropa dan Afrika merupakan bagian dari kronologi tetralogi Laskar Pelangi. Secara singkat dapat kugambarkan bahwa Tetralogi Laskar Pelangi terdiri atas cerita Laskar Pelangi ketika aku kecil di kampung, kemudian cerita Sang Pemimpi ketika menginjak remaja, disambung dengan Edensor ketika dewasa, dan terakhir cerita Maryamah Karpov, yaitu kembali lagi ke kampung. YM: Rasanya di buku ketiga ini, ada kemiripan dengan The Alchemist-nya Paulo Coelho. Mungkin kebetulan saja atau karena memang sama-sama "dalam pencarian"?AH: Aku harus jujur mengakui satu hal, bahwa mungkin saja aku penulis yang rajin. Orang bilang lumayan produktif karena aku selalu menyelesaikan novel-novelku dalam hitungan minggu (menurutku sih hal ini tak terlepas dari penyakit akut insomnia yang menyiksaku, sehingga sampai malam nggak ada yang dikerjakan lalu aku menulis), namun aku adalah seorang pembaca yang buruk. Aku menghabiskan demikian banyak waktu hanya untuk membaca buku-buku sastra yang tipis sekalipun. Barangkali ketika membaca aku benar-benar meresapi. Jika berjumpa dengan bagian yang bagus kuulang berkali-kali sampai hampir hapal. Akibatnya aku belum banyak membaca buku termasuk belum membaca Alchemist Paulo Coelho. Tapi aku telah membaca resensinya, barangkali kemiripan Edensor dan Alchemist adalah keduanya berkisah tentang kekuatan mimpi dan semangat manusia. YM: Ketika SP jadi best seller, kabarnya sempat akan difilmkan. Kalau akhirnya setuju bukunya difilmkan, siapa sutradara yang akan Anda pilih? Anak muda yang idealis, atau mungkin Garin Nugroho?AH: Terima kasih banyak pada para pembaca yang telah menghujaniku dengan banyak sekali SMS dan email agar aku tidak memfilmkan novel-novelku. Barangkali mereka sering kecewa dengan novel yang difilmkan. Aku sangat memperhatikan saran-saran para pembaca. Tawaran untuk memfilmkan Laskar Pelangi telah muncul sejak tiga minggu pertama novel itu beredar dan dinyatakan best seller, namun aku sangat selektif meskipun telah diimingi sejumlah uang yang amat menggiurkan. Belakangan aku aktif ngobrol dengan Riri Riza, menurut pendapatku Riri adalah sineas muda yang visioner dan cerdas. Jika nanti memang ada kesempatan yang baik untuk memfilmkan novel-novelku, besar kemungkinan aku akan bekerja sama dengan Riri. Tapi tak tertutup kemungkinan juga dengan Mas Garin, aku merasa terhormat jika bisa bekerja dengan mereka. Namun tentu saja aku sangat memperhatikan pendangan dari para pembaca bukuku. Mereka adalah prioritas utama bagiku sehingga adaptasi novel-novelku menjadi film akan melalui tahap-tahap yang sangat mempertimbangkan ekspektasi para pembaca. YM: Di Edensor, cuma ada cerita tentang nama Andrea. Lantas Hirata-nya dari mana? Ada yang mengira itu nama Jepang?AH: Nama Hirata juga sering menyulitkanku. Di beberapa toko buku, bukuku sering dipajang di rak buku terjemahan karena aku disangka orang Jepang. Padahal aku orang Belitong asli. Hirata adalah nama orang kampung di pedalaman Belitong sana, nama daerah, nama yang amat tradisional YM: Saya tertarik pernyataan Linda Christanty di sampul Edensor yang bilang, Andrea Hirata membuatku mabuk kepayang. Bagaimana rasanya di-mabuk-kepayang-i Linda dan banyak perempuan lain?AH: Aku selalu berusaha positif. Aku menganggap pendapat orang atas karyaku sebagai bentuk apresiasi dan untuk itu aku berterima kasih dengan takzim. Terlepas dari segala teori dan pakem sastra serta ikon-ikon industri buku, bagiku pembaca adalah bagian terpenting dari seluruh proses berkaryaku dan bagian paling esensial dalam ranah perbukuan.Aku senang karena reaksi pembaca bukuku terutama karena bukuku, bukan karena aku. Buktinya, ketika diskusi bukuku di Fakultas Ilmu Budaya , Universitas Indonesia baru-baru ini seorang perempuan cantik berdiri dan berteriak "Andrea, gue mau protes, ternyata dirimu tak secakep fotomu!" ha..ha..ha.. YM: Pernah bertemu langsung dengan Anggun C Sasmi?AH: Aku belum pernah jumpa dengan Anggun YM: Kalau ketemu, apa yang Anda ingin katakan pada dia?AH: Jika berjumpa dengannya aku mau bilang, "Anggun, tulis dong lagu untuk menghormati para guru." Tahukah kawan? Satu-satunya artis Indonesia yang punya International Fans Club hanya Anggun. Nggak percaya? Cek web-nya. YM: Bagaimana Anda menilai dia dan segala perjuangannya hingga Anggun begitu ngetop di Prancis? AH: Bagiku Anggun adalah antitesis dari sikap kebanyakan selebritis yang memegahkan diri sendiri dengan memanipulasi selera rendah sebagian besar orang. Anggun tampil dengan mutu tinggi dan kualitas karya berstandar internasional. YM: Kalau ditawari membuat biografi Anggun, Anda bersedia?AH: Bikin biografi Anggun? Mungkin aku tak mampu, karena menulis biografi butuh keahlian tersendiri dan aku bukan ahlinya. Kalau Anggun menawariku, job itu akan kulungsurkan lagi pada Linda Christanty, ha..ha.. YM: Maryamah Karpov terbit kapan?AH: Maryamah Karpov masih akan lama sekali terutama karena di tempat kerjaku di Telkom sekarang aku bekerja di bagian yang aku sukai, jadi aku sedang bersemangat kerja nih. Juga karena Maryamah Karpov adalah cerita tentang perempuan dan ternyata menulis cerita tentang perempuan sangat tidak mudah. Perempuan dengan daya tahannya yang luar biasa mengatasi rasa sakit dan kekuatan raksasa hati nuraninya tak mudah begitu saja diurai. YM: Setelah tetralogi ini, ada rencana bikin buku lagi?AH: Setelah Maryamah Karpov aku tertarik untuk menulis buku ilmiah di bidang spesialisasiku yaitu ekonomi telekomunikasi. Dulu aku mendapat beasiswa di Sorbonne untuk mempelajari ekonomi telekomunikasi. Bidang ini sudah umum di luar negeri namun merupakan barang baru di Indonesia. Biar beasiswa dan pendidikanku itu ada manfaatnya bagi masyarakat luas, aku ingin menulis buku di bidang ini. Sebenarnya buku ekonomi telekomunikasi telah kutulis, telah diterbitkan oleh penerbit ITB dan beredar luas. Yang akan kutulis adalah edisi keduanya. YM: LP, SP, Endensor, sejauh ini masing-masing berapa kali cetak dan laku berapa ribu kopi?AH: Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi Alhamdullilah akan naik cetak kedelapan dengan jumlah mungkin sekitar 50 ribuan kopi, dan Laskar pelangi telah pula best seller di luar negeri. YM: Ada pengalaman mengesankan, menyedihkan atau apapun selama promo?AH: Pengalaman yang menggembirakan jika dalam diskusi ada seseorang membawa naskahnya lalu karya itu langsung disikusikan bersama karyaku, jadi bisa saling belajar. Yang menyedihkan adalah mendapati sebagain besar anak muda menulis buku dengan menambatkan dirinya demikian kuat pada pengaruh industri buku. Dalam pikiran mereka hanya bagaimana membuat buku yang laku dan menjadi terkenal. Sebagian besar mereka tak peduli dengan riset ketika menulis buku dan tak mau repot berusaha menulis buku yang lebih berkapasitas, lebih menyedihkan lagi sebagian sangat menyukai hal-hal yang pornografik. YM: Setelah ini, apalagi mimpi Anda?AH: Aku ingin tinggal dan mungkin menetap di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia di Himalaya, itulah mimpiku sekarang. YM: Oh iya, akan diapakan royalti buku Anda? Apakah membangun sekolah atau lembaga pendidikan dan semacam itu atau untuk bekal berpetualang lagi, atau untuk modal hidup di negeri mana?AH: Seperti tekadku selalu, royalti bukuku akan digunakan untuk membangun perpustakaan di kampungku yang sampai hari ini belum juga punya perpustakaan. (*)
Kemarin siang, setelah menghilangkan kegerahan dengan memangkas rambut, saya ke rumah sakit. Rupanya ibu kantin yang abis kecelakaan hari Senin lalu, masih harus nginep di rumah sakit. Setiap bangun, kepalanya masih pusing. Oleh dokter, dia masih diharuskan tinggal di sana meski katanya setelah difoto, kepalanya nggak apa2. Ruang perawatan ibu kantin berada di ujung kompleks rumah sakit. Dalam satu ruangan, ada empat tempat tidur, tapi hanya ada tiga pasien, termasuk ibu kantin. Saat saya tiba, bapak kantin sedang menikmati makan siangnya. Jadi saya ngobrol2 dengan ibu kantin. Tapi tak banyak yang kami obrolkan. Ibu kantin belum bisa banyak ngobrol dan bergerak. Kami berdua hanya memperhatikan pasien lain di ruangan itu. Kami berdua tertarik dengan pasien di sudut yang berlawanan dengan tempat tidur ibu kantin. Pasien perempuan, rambutnya udah memutih. Suster memanggilnya ibu Maria. Suaminya, juga udah tua. Badannya mulai bongkok. Tapi rambutnya masih hitam, selegam alisnya. Mereka berdua suka tersenyum dan rajin nanya ke suster. Saat disuntikkan insulin ke lengan ibu Maria, dia bilang, dia juga mantan suster. Setelah disuntik, mereka berdua tidur bersisian di satu ranjang sambil ngobrol riang. "Begitulah kita nanti. Hanya berdua di masa tua, tak ada anak, saling menjaga seperti adik-kakak," ibu kantin menyela keasyikanku menonton pasangan tua itu. Tak lama, ibu Maria tampaknya ingin ke toilet. dengan hati2 ia bangun dan menyingkap selimutnya. Suaminya menggulung celana panjang hitamnya, lalu meraih lengan istrinya. Tapi ibu Maria tampaknya merasa bisa berjalan sendiri, lalu melepaskan tangan suaminya. Suaminya berjalan cepat, membukakan pintu kamar mandi. Tapi ibu Maria mampir buat ngaca di depan toilet. Suaminya meringis, "Waduh...". Istrinya mematut diri di depan cermin, kembali merapikan rambut putih sebahunya dengan memasang sebuah bando hitam. "Gimana?" tanyanya pada suaminya. Sang suami dengan senyum lebar mengatakan, "Cantik, kok! Kamu cantik." Puas dengan jawaban suaminya, ibu Maria masuk kamar mandi. Suaminya menunggu di depan pintu. "Hati2 ya sayang, sendiri aja ya, saya tunggu di sini," katanya sambil merapatkan pintu. Hei....dada saya berdesir. Saya sukaaa adegan mereka. Dan tiba2 saya merindukan bapak-mama. Akan begini jugakah mereka nanti saat saya tak bersama mereka? Ya Tuhan, saya kangen! Lalu...saya membisiki ibu kantin. "Bu, harus diralat. Saat tua seperti itu, kita bukan seperti adik-kakak, tapi seperti orang pacaran." Ibu kantin mengangguk lemah tapi sambil tersenyum. Keluar dari kamar mandi, bu Maria tampaknya ingin menikmati angin sore di teras kamar yang menghadap ke taman. Suaminya mendudukannya di bangku teras lalu bergabung dengan keluarga pasien lain, penghuni kamar sebelah. Saya ikut duduk di sisi bu Maria. Membuka obrolan. "Ibu sakit apa?" Sambil tersenyum dia menjawab, "Katanya sih sakit diabetes. Padahal saya ga pernah merasa sakit. Ga ada sakitnya. Cuma, kalo abis makan, saya tuh pengennya makan lagi, makan lagi." Saya tersenyum. "Saya juga heran," lanjutnya. Lalu kami mengalihkan pandangan ke taman. Jam besuk telah tiba. Banyak anak kecil bermain di taman. Mereka melempari burung2 gereja dengan remah2 roti. Burung2 kaget dan beterbangan ke pohon cemara. Kini cemara itu seperti berbunga burung gereja di setiap pucuknya. "Indah ya!" kata Bu Maria. Saya menoleh ke arahnya. Tangannya menunjuk ke taman, "Anak2 itu suka." Saya mengangguk. "Ayo bu, udah waktunya makan. Udah stengah jam abis disuntik," ajak suami bu Maria sambil tersenyum ke arahku. Saya ikut masuk lagi ke ruangan, ke sisi bu Kantin. Mata saya terus melihat ke pasangan tua itu. "Mau makan sendiri atau disuapin? Makan sendiri aja, ya," kata suaminya lagi. Bu Maria mengangguk dan mulai menyendok makanannya. Lagi-lagi dada saya berdesir. Lalu pikiran saya menerawang.... *) kisah ini buat kamu. bu kantin juga bilang 'ma kasih' atas doamu. love u!
Kesan-1Berapa orang yang meninggalkan kesan mendalam di hidup Anda? Lebih dua puluh tahun terlahir ke bumi, saya punya beberapa, kalau tak bisa dibilang banyak. Buat saya, semua orang punya kesan, semua orang memberiku pelajaran. Saya ingin mulai mengumpulkan cerita2 tentang mereka, agar kisahnya abadi, menjadi pelajaran buat saya. Syukur2 kalo juga jadi pelajaran hidup buat orang lain yang membacanya.Tentang Perempuan TangguhPERTENGAHAN Desember 2007 saya mengenal Dian. Dian Lestariningsih lengkapnya. Kami tergabung dalam satu kelas menulis. Awalnya, saya agak segan mendahuluinya untuk ngobrol. Penampilannya, cuek, tomboy abis [saya seperti bercermin ke masa lalu, hehehe...] sehingga rasanya tak ada celah untuk memulai obrolan. Tapi saat perkenalan diri, saya cukup tersentak dengan kalimatnya. "Uh, malu gw punya mulut Jawa kek gini," sambil menampar pelan mulutnya. Iya, di tengah kelas yang banyak berbicara soal Indonesia yang sarat persoalan diskriminasi dan ketidakadilan, konflik antar etnis, media yang bias, saya memahami kegemasannya pada 'mulut Jawa'nya. Sebab ternyata dia orang yang begitu gelisah memikirkan negeri ini. Dibalik ketomboyannya, dia ternyata menyimpan empati yang luar biasa terhadap persoalan lingkungannya. Dia benar2 paham cerita kelam soal sentralisme kekuasaan di negeri yang kami sebut, Indopahit, meminjam istilah Mas Andreas Harsono. Di penghujung hari pertama kelas itu, saya baru tau kalo kami satu kost meski beda lantai. Saya dan Marta, seorang teman dari Harian Surya Surabaya di lantai dua dan dia di lantai tiga. Sore saat kami pulang ke kost dia bilang, dia tak tahan tanpa selimut. Desember, Jakarta memang agak dingin. Tapi dia bilang, dalam keadaan gerah pun, dia terbiasa berselimut. Maka kupinjami dia kain yang tak kupakai, karena sebaliknya, saya justru merasa sangat gerah selama di Jakarta. Tak banyak obrolan yang saya dengar darinya meski sore hingga malam kami jalan-jalan bareng. Esoknya, dia mengajak kami keliling kawasan Kota Tua Batavia. Sedikit demi sedikit saya mengumpulkan kesan tentangnya. Bersamanya [dalam arti: makan, jalan, tidur, belajar] selama kurang lebih 2 minggu, membuat saya benar2 mengambil banyak pelajaran dari hidupnya. Dia terlahir sebagai putri Solo, kerabat dekat keraton. Namun tak seperti dongeng2 tentang putri2 keraton, hidupnya sangat bertolak belakang. Terlalu sederhana, bahkan 'sulit'. Karena keadaan itu, tak jarang dia dan keluarganya dipandang sinis oleh keluarga besarnya. Tapi pandangan seperti itu justru membuatnya bangkit. Ia tak ingin dikerdilkan. Ia, dengan usahanya sendiri, akhirnya meraih begitu banyak impian remaja seusianya. Kalo tak salah menyimak, saat duduk di bangku SMP dia ikut aktif menjadi jurnalis muda di koran lokal di Jogjakarta, Bernas. Harian Bernas ketika itu masih di bawah Kompas-Gramedia. Pengetahuan tentang jurnalistik ini, modal besarnya untuk menjadi seperti sekarang [yang akhirnya juga mempertemukan kami]. Saat SMA, dia berhasil dapat beasiswa (?) dan belajar di Jepang selama setahun. Prestasi-prestasi itu, membuat mata keluarga besarnya sedikit terbuka. Lalu pencapaian besarnya yang lain saat dia menjadi manajer sebuah grup band ternama di negeri ini [halah, sebut aja, Sheila On 7]. Sebagai remaja yang ketika itu juga gandrung pada Sheila On 7, sedikit-sedikit saya juga mendengar namanya dari berbagai media. Yang saya tau, ribuan remaja saat itu, memimpikan posisi Dian, agar bisa terus menerus berada dekat idolanya, menjadi terkenal, bisa menjelajah pelosok negeri, dielu-elukan dan diprioritaskan. Dan tentu saja kaya raya! Dian bisa mendapatkan semuanya. Ratusan juta bisa mengisi rekeningnya. Pandangan hormat dari keluarga besarnya akhirnya didapatnya. Semua orang amat sangat ramah padanya. Semua orang! "Tapi semuanya hanya di permukaan. Yang sebenernya, kosong, hampa" kata Dian. Dia pun meninggalkan band itu persis di masa ngetopnya, usai tiga album yang selalu sukses. Dian merasa seperti tak kenal dirinya saat itu. Tak pernah ada waktu untuk diri sendiri. Tidurnya di jalan, dari satu show ke show yang lain. Pulang ke rumah sekali sepekan, hanya beberapa jam. Dia lelah. dia capek. Dia berhenti. Lalu persoalan demi persoalan menghampiri. Dan orang2 yang dulunya ramah, menjauh. Duitnya diembat Rp 200 juta. Berdiam diri sebulan lamanya tanpa aktivitas. Lalu perlahan dia bangkit lagi. Menyelesaikan kuliah. Bekerja. Menjelajah. Dari barat hingga ke timur negeri ini. Lalu ke beberapa negara. Saat ini dia aktif di NGO asing di Jogja, sebagai PR. 2008, mimpinya keluar lagi dari Jawa. Kembali menulis. Pelajaran apa yang saya dapat? Buanyakkk. Ini hanya sedikit diantaranya. Bahwa, pandangan sinis tak harus menjadikan kita kerdil. Bahwa, teman sejati bukan tak ada, cuma emang rada sulit ditemukan. Bahwa, ketenaran tidak selalu membawa kebahagiaan. Sahabat, teruslah jadi perempuan tangguh ya! Cerita ini juga saya posting di blog lainnya.
ga tau kenapa akhir2 gw sering banget tiba2 sedih. dan ga jelas penyebabnya apa. tau2 sediiih aja. "aaah, perempuan!" kata temen saya lalu kenapa kalo perempuan? sedih, sentimentil, melow, semuanya bawaan orok? kata siapa?
aaahhh...akhirnya gw ingat lagu itu mahkamah rakyat solusi paling tepatbenteng kebenaran dan keadilan rakyatadili soeharto di mahkamah rakyatdemi terciptanya keadilan bersamamahkamah rakyat oi oi, mahkamah rakyat oi oimahkamah rakyat solusi paling tepat!gw lagi kesel sama kamu, kamu, kamu, dan kamu! gw, lagi terbakar amarah sendirian!
Mungkin detik ini, seluruh mata di republik Indopahit, melihat ke satu arah, berita! Baik di televisi, koran (terbitan pagi-siang-sore-malem) dan internet. Isinya seragam, si anu menjenguk siapa. Mereka mungkin ga sadar, besok, ketika bangun pagi2, mereka ga bisa lagi membeli apa2 untuk mengisi perut. Karena harga kedelai dan terigu, bahan makanan rakyat jelata, melonjak semua. Terpaksa tempe dicampur singkong. Balik ke zaman awal peradaban? Makannya singkong? Media, menurut gw, udah over expose. Tak ada lagi yang mengingat soal keseimbangan. Semua satu suara, satu muara, pemaafan. Herannya, yang berlomba2 memberi maaf justru bukan orang-orang yang tersakiti oleh u-know-who! [<i>ouh, saya pun melakukan itu. saya heran melihat Guruh di layar tivi. Tak ingatkah dia tentang kasus Dokter Hewan buat sang ayah? tapi sudahlah, itu hak dia. Dan Guruh memang bukan Rahma</i>] Setting siapa sih ini? Hanya ada dua nama! Pemilik kepentingan dan pemilik media. Siapa pemilik media di negeri ini? Halah, u-know-who-lah, masa masih nanya! Pemilik kepentingan? Yaelah, masih nanya juga. Sama aja, pendukung setia, u-know-who! [<i>terserah mau percaya atau nggak, ini memang cuma sok analisis bodoh gw</i>] Mungkin ada satu atau dua media yang tidak sepenuhnya over expose karena latar belakang dukungannya selama ini. Tapi menurut gw, koran itu tetep aja belum bersikap adil. Dan menurut gw, koran ini akan tetep ngikut ke selera pasar yang udah disetting mati2an oleh dua nama tadi. Mungkin takut ga laku kalo ga ikut yang seragam. Belum nyoba udah takut duluan. Hah...cuma ibu-timun di kartun kompas yang masih berpikir jernih. Tetep sibuk antre minyak tanah, sibuk ngurus jatah raskin, sibuk ngurus askeskin, dan ga peduli pada bapak yang lagi sakit. Padahal ...itu suaminya sendiri, haqhaqhaq...pikiran jernih apa gila yak? :p Oh iya, sementara semua orang sibuk dengan satu berita, pabrik satu ini memberitakan soal meninggalnya Sekretaris Yayasan Supersemar, Arjodarmoko. Menurut berita itu, atas perintah Soeharto, Arjodarmoko disebut-sebut pernah membeli tanah 144 hektare di Citerurup Bogor, Jawa Barat. Tanah itu kini menjadi Sirkuit Sentul. Arjodarmoko sempat menolak menggunakan tanah itu untuk membantu memajukan olahraga balap. Alasannya, Yayasan Supersemar merupakan yayasan sosial. "Kami tidak mengurusi masalah olahraga," kata Arjodarmoko suatu ketika.Innalillahi... *) postingan ini juga gw muat di blog satunya
Fiksi, bukan fakta. Sebaliknya, fakta bukan fiksi. Maka sebuah karya fiksi memang tak bisa dikategorikan karya jurnalistik, meski didasarkan pada sebuah kisah nyata. Tapi saya suka karya2 fiksi semacam itu, seperti yang dibuat oleh Seno Gumira Ajidarma. Sama sukanya saya dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Berikut, saya mengambil cerpen karya Seno Gumira Ajidarma ini dari sebuah milis yang entah telah mengalami berapa kali copy-paste sehingga saya tak mencantumkan lagi sumber milisnya. Sangat relevan dengan kondisi kekinian sebuah negeri antah berantah. Saya juga memuatnya di blog saya yang lain.Menunggu Kematian Paman GoberOleh: Seno Gumira AjidarmaKematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah. Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, "Oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu." Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober. Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya. Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek. Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi legenda yang disukai. Pman Gober begitu rakus. Pman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai? "Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel. "Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik. "Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut. "Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek. Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah. "Belum mati juga!" Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media. Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, dan membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati. "Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?" Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa? Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi. "Terlalu, masak tidak ada bebek lain?" Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan. "Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula." "Apakah saya tidak punya hak bicara?" "Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih." "Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia." "Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia." "Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?" "Yang jelas manusia bisa makan manusia." "Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?" Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek. "Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya Kota Bebek?" Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara. "Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi." "Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan." Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya. Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia. "Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya. "Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek. "Apakah itu hakikat hidup bebek?" "Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober." Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan. Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari nin Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama. Jakarta, 16 Agustus 1994
Sudah empat kali perempuan itu berpindah tempat duduk. Dua kali di bangku yang menghadap televisi, dan dua kali ke bangku yang menghadap lapangan parkir pesawat. Dia selalu melihat ke arahku, tersenyum kecil, mengibas-ngibaskan secarik kertas, mungkin tiket. Saya ragu membalas senyumnya karena tak cuma kami berdua di ruangan itu. Kini kali kelima, dia beringsut ke arahku. "Permisi," katanya, lalu duduk di bangku kosong antara saya dan seorang ibu paruh baya. "Mbak beli tiket harga berapa? Ke Semarang, bukan?" tanyanya setelah saya membalas anggukan dan senyumnya. Saya menyebutkan angka dan matanya sedikit terbelalak. Dengan gerakan buru-buru, ikat rambutnya yang telah rapi dilepas lalu disisir dengan jari, dan diikatnya lagi. "Dua ratus ribu? Awak dikasih sama ajen 600 ribu, lebih." Bibirnya masih bergerak-gerak tapi tak ada tambahan kata-kata dari mulutnya. Hanya gigi gingsul di ujung bibir kanannya yang menyembul. "Tadi beli tiket dimana?" tanyaku. "Di bawah sana, sama ajen. Awak tadi berempat lewat terminal, awak bilang hendak ke Semarang. Awak tak tau harga, awak ikut saja disuruh bayar ini, bayar itu." Pinggiran matanya agak merah dan berair. Dia lalu menjabat tangan saya, menyebutkan namanya, Hidayatul Musrifah. "Punya card? Awak tak punya, catat saja alamat awak. Nanti awak nak jumpa dengan Mbak, siapa tau ada kabar kerja bagus, kan?" Dia menatap saya sejenak setelah membaca kartu nama saya. Buru-buru saya bertanya."Hanya berempat? Lewat terminal? Terminal mana?" Wajahnya didekatkan ke telingaku, suaranya direndahkan. "Awak dari Kualalumpur. Awak lewat terminal khusus." "Oh…TKI?" "Iyah." Lalu suaranya meninggi. "Awak tak paham, awak banting tulang cari uang, ajen tinggal potong awak punya uang. Lima bulan awak tak terima upah. Sekarang pulang awak dimintai tiket mahal sangat, 600 ribu," Musrifah menarik nafas sejenak. Lalu bicaranya makin cepat, "Awak sering lawan sama ajen. Awak bilang kenapa uang awak dipotong terus. Awak capek kerja, ajen tinggal minta uang, awak pun harus ngirim uang untuk family. Ajen bilang awak nih banyak cakap, cerewet sangat. Awak bilang, biar! Awak capek." Musrifah menyandarkan badan. Dengan suara yang sudah normal kembali, dia pun bercerita awal kepergiannya ke Kualalumpur, empat tahun lalu, setamat dari SMP di Kendal, Jawa Tengah. "Awak tak bilang ke family, langsung pergi saja. Perasaan awak macam sakit hati tak bisa sekolah. Orangtua di kampung tak punya uang," tuturnya. Kini dia membiayai sekolah adik lelakinya yang duduk di bangku SMA. "Dia anak laki, harus bisa menghidupi istri nanti, sekolahnya harus lebih tinggi dari awak." Cerita lain terus mengalir, sesekali diiringi tawa saat membandingkan dua mantan majikannya. "Satunya banyak anak, awak capek. Satunya majikan perempuan, cerewet sangat. Tapi sering ajak shoping," katanya. Kami berpisah di Semarang. Dia memeluk saya dua kali. Ayahnya telah menunggu hampir enam jam, karena pesawat kami delay. (*) *) diceritakan ulang dari tulisan ini
 | tkw-1 | Nov 25, '07 4:30 AM for everyone |
Dalam gelisahnya, perempuan itu menatapku, berkali-kali. Kuputuskan memberinya seulas senyum. Lalu dia beringsut mendekatiku. Namanya bagus, meski gw ga tau artinya, Hidayatul Musrifah. Tak lama ceritanya mengalir tanpa bisa kubendung. Saat bercerita, matanya merah dan basah. Seketika itu, rasanya gw ingin memeluknya, seperti pelukan kakak pada adiknya. Tapi, sepertinya dia tak butuh lagi. Karena setelah menumpahkan semua ceritanya, perempuan itu mulai bisa tergelak dan membuat orang-orang di sekeliling kami menoleh dan ikut tersenyum. Hidayatul Musrifah, perempuan belia itu, baru berusia 20 tahun. Empat tahun lalu, setamat SMP, dia nekat ke Malaysia menjadi TKW. Tak pamit pada dua orangtua yang membuatnya kecewa karena tak mampu menyekolahkannya. Setelah dua tahun bekerja pada majikan baik tapi banyak anak dengan gaji Rp 1,3 juta per bulan, dia pulang. Rindunya tak terbendung. Itu kali pertama dia menghubungi keluarganya setelah dua tahun menghilang. Tangis haru menyongsongnya. Tapi dia kembali ke Malaysia empat bulan berikutnya. Periode keduanya dimulai di majikan berbeda. Kali ini berhadapan dengan majikan dengan dua anak. Yang membuatnya tak betah, nyonya majikannya, teramat sangat cerewet. Calo TKI yang disebutnya "ajen" pun menaikkan biaya administrasi hingga 5 bulan dia tak terima gaji seringgit pun. Tapi demi sekolah adiknya, dia bertahan, karena gajinya naik menjadi rp 1,5 juta per bulan. "Awak tak mengape sekolah tak tinggi2. Tapi adik awak laki-laki, harus sekolah sampai SMA. Nanti, dia harus bisa menghidupi anak perempuan orang, jadi harus sekolah," katanya. Lihat, betapa waktu telah menempanya hingga pikirannya tak sebelia usianya lagi. Kini dia pulang, menuju Kendal, Jawa Tengah, tanah tumpah darahnya. Tapi terminal khusus itu menyambutnya tak ramah. Dari Kualalumpur ke Surabaya, masih baik-baik saja, majikannya mengurusnya hingga tangga pesawat. Tapi perjalanan dari Surabaya menuju Semarang, dia dimintai uang tiket tiga kali lipat harga normal, membuat uang dalam genggamannya menyusut seketika. Belum lagi potongan lain dari orang2 berseragam yang katanya demi keamanan para TKW, pahlawan devisa itu. "Padahal dua tahun ini awak tak lagi mengirim banyak uwang ke kampung. Awak nak tabung buat hidup awak sendiri. Awak tak mau lagi balik ke Malaysia. Mau hidup dekat family saja," bisiknya lirih dengan mata yang basah. Sampai badan pesawat menelan kami, tangannya tak pernah mau melepaskan tanganku. Sesampainya di Bandara Ahmad Yani Semarang, dia memelukku hingga nyaris membuatku sesak nafas. Eraaaat sekali. "Awak nak jumpa Mbak lagi," katanya, lalu memelukku sekali lagi. Ah, perjalanan singkat ini, mengirimiku seorang kawan dan segudang pelajaran.
 | amnesia | Nov 18, '07 10:56 PM for everyone |
obrolan suatu malam di ruang redaksi gw: ya ampun, berita ini harus masuk. ga kesian apa, korban lumpur....? :( dia: alah, yat! makanya jalan-jalan dong. Di sana itu udah sepi, ga ada apa2 lagi gw: emang udah ga ada apa2, udah ditenggelamkan semua *geram* dia: beneran ini. di sana udah jadi tempat wisata, banyak yang berkunjung untuk nonton aja. *zigghhh...! iyaaaa...sorry, gw emang telat masuk kelas pelajaran amnesia! X-(
UU Perkawinan no 1 tahun 1974 pasal 31 dan 34 mengatur, kepala keluarga adalah pihak laki-laki atau suami. Lalu UU ketenagakerjaan mengatakan, yang berhak memperoleh tunjangan kerja adalah kepala keluarga. Lalu dimana tempat perempuan? Jauh di lorong gelap dan termarginalkan. Bagaimana dengan ibu, yang menjadi orangtua tunggal? Disuruh nikah lagi dengan lelaki yang ingin berpoligami sebab UU yang sama membolehkan lelaki memiliki lebih dari satu istri. Wajar, karena pembuat aturan memang para lelaki.
| |